WASPADAI BAHAYA MIKOTOKSIN PADA MAKANAN!!!
Oleh: R. Haryo
Bimo Setiarto (Bidang Biokimia Mikrobiologi Puslit Biologi LIPI)
Pendahuluan
Makanan merupakan sumber energi yang
dibutuhkan oleh manusia dan hewan untuk melangsungkan kehidupannya. Namun,
makanan dapat menjadi sumber penyakit jika tidak memenuhi kriteria sebagai
makanan baik, sehat dan aman. Berbagai kontaminan dapat mencemari bahan pangan
dan pakan sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Fungsi makanan yaitu menjaga
keberlangsungan hidup dan menjaga agar makhluk hidup sehat lahir dan bathin.
Selain itu, kualitas makanan yang dikonsumsi dapat berpengaruh terhadap
kualitas hidup dan perilaku makhluk hidup itu sendiri. Kualitas makanan atau
bahan makanan di alam ini tidak terlepas dari berbagai pengaruh seperti kondisi
dan lingkungan, yang menjadikan layak atau tidaknya suatu makanan untuk
dikonsumsi. Berbagai bahan pencemar dapat terkandung di dalam makanan karena
penggunaan bahan baku pangan terkontaminasi, proses pengolahan, dan proses
penyimpanan. Di antara kontaminan yang sering ditemukan adalah mikotoksin yang
dihasilkan oleh kapang (fungi).
Selama penyimpanan bahan makanan sangat mudah ditumbuhi
oleh kapang. Iklim tropis yang dimiliki Indonesia dengan curah hujan, suhu dan
kelembaban yang tinggi sangat mendukung pertumbuhan kapang penghasil
mikotoksin. Kontaminasi mikotoksin tidak hanya menurunkan kualitas bahan
pangan/pakan dan mempengaruhi nilai ekonomis, tetapi juga membahayakan
kesehatan manusia dan hewan. Berbagai penyakit dapat ditimbulkan oleh
mikotoksin, seperti kanker hati yang disebabkan oleh aflatoksin, salah satu
jenis mikotoksin yang paling banyak ditemukan di negara beriklim tropis. Karena
adanya kontaminasi mikotoksin yang tidak kasat mata, terlebih lagi pada makanan
olahan, maka diperlukan kewaspadaan dalam memilih makanan terutama bahan
makanan atau makanan olahan yang telah disimpan dalam waktu lama.
Mikotoksin dan Mikotoksikosis
Mikotoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh
spesies kapang tertentu selama pertumbuhannya pada bahan pangan maupun pakan
(Fox dan Cameron, 1989). Mikotoksin mulai dikenal sejak ditemukannya aflatoksin
yang menyebabkan Turkey X –disease pada tahun 1960. Hingga saat ini
telah dikenal 300 jenis mikotoksin (Cole dan Cox, 1981), lima jenis diantaranya
sangat berpotensi menyebabkan penyakit baik pada manusia maupun hewan, yaitu
aflatoksin, okratoksin A, zearalenon, trikotesena (deoksinivalenol, toksin T2)
dan fumonisin. Menurut Bhat dan Miller (1991) sekitar 25-50% komoditas
pertanian tercemar kelima jenis mikotoksin tersebut. Penyakit yang disebabkan
karena adanya pemaparan mikotoksin disebut mikotoksikosis.
Perbedaan sifat-sifat kimia, biologik dan toksikologik
tiap mikotoksin menyebabkan adanya perbedaan efek toksik yang ditimbulkannya.
Selain itu, toksisitas ini juga ditentukan oleh: (1) dosis atau jumlah
mikotoksin yang dikonsumsi; (2) rute pemaparan; (3) lamanya pemaparan; (4)
spesies; (5) umur; (6) jenis kelamin; (7) status fisiologis, kesehatan dan
gizi; dan ( 8 ) efek sinergis dari berbagai mikotoksin yang secara bersamaan
terdapat pada bahan pangan (Bahri et al., 2002).
Aflatoksin
Aflatoksin
berasal dari singkatan Aspergillus flavus toxin. Toksin ini pertama
kali diketahui berasal dari kapang Aspergillus flavus yang berhasil
diisolasi pada tahun 1960. A. flavus sebagai penghasil utama
aflatoksin umumnya hanya memproduksi aflatoksin B1 dan B2 (AFB1
dan AFB2) Sedangkan A. parasiticus memproduksi AFB1,
AFB2, AFG1, dan AFG2. A. flavus dan A.
parasiticus ini tumbuh pada kisaran suhu yang jauh, yaitu berkisar dari
10-120C sampai 42-430C dengan suhu optimum 320-330C
dan pH optimum 6.
Diantara keempat jenis aflatoksin tersebut AFB1 memiliki
efek toksik yang paling tinggi. Mikotoksin ini bersifat karsinogenik,
hepatatoksik dan mutagenik sehingga menjadi perhatian badan kesehatan dunia
(WHO) dan dikategorikan sebagai karsinogenik gol 1A. Selain itu, aflatoksin juga bersifat immunosuppresif yang
dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Di Indonesia, aflatoksin merupakan
mikotoksin yang sering ditemukan pada produk-produk pertanian dan hasil olahan
(Muhilal dan Karyadi, 1985, Agus et al., 1999). Selain itu, residu
aflatoksin dan metabolitnya juga ditemukan pada produk peternak seperti susu
(Bahri et al., 1995), telur (Maryam et al., 1994), dan daging
ayam (Maryam, 1996). Sudjadi et al (1999) melaporkan bahwa 80 diantara
81 orang pasien (66 orang pria dan 15 orang wanita) menderita kanker hati
karena mengkonsumsi oncom, tempe, kacang goring, bumbu kacang, kecap dan ikan
asin. AFB1, AFG1, dan AFM1 terdeteksi pada
contoh liver dari 58% pasien tersebut dengan konsentrasi diatas 400 µg/kg.
Okratoksin
Okratoksin,
terutama Okratoksin A (OA) diketahui sebagai penyebab keracunan ginjal pada
manusia maupun hewan, dan juga diduga bersifat karsinogenik. Okratoksin A ini pertama kali diisolasi pada tahun 1965
dari kapang Aspergillus ochraceus. Secara alami A. ochraceus
terdapat pada tanaman yang mati atau busuk, juga pada biji-bijian,
kacang-kacangan dan buah-buahan. Selain A.ochraceus, OA juga dapat
dihasilkan oleh Penicillium viridicatum (Kuiper-Goodman, 1996) yang
terdapat pada biji-bijian di daerah beriklim sedang (temperate), seperti pada
gandum di eropa bagian utara. P.viridicatum tumbuh pada suhu antara 0
– 310 C dengan suhu optimal pada 200C dan pH optimum 6 – 7.
A.ochraceus tumbuh pada suhu antara 8 – 370C. Saat ini
diketahui sedikitnya 3 macam Okratoksin, yaitu Okratoksin A (OA), Okratoksin B
(OB), dan Okratoksin C (OC). OA adalah yang paling toksik dan paling banyak
ditemukan di alam.

Gambar Struktur
kimia ochratoksin
Hal penting yang berkaitan dengan perdagangan komoditas
kopi di pasar internasional adalah bahwa sebagian besar negara pengimpor/
konsumen kopi mensyaratkan kadar OA yang sangat rendah atau bebas OA. Selain
pada produk tanaman, ternyata OA dapat ditemukan pada berbagai produk ternak
seperti daging babi dan daging ayam. Hal ini karena OA bersifat larut
dalam lemak sehingga dapat tertimbun di bagian daging yang berlemak.
Manusia dapat terekspose OA melalui produk ternak yang dikonsumsi.
Zearalenon
Zearalenon
adalah toksin estrogenik yang dihasilkan oleh kapang Fusarium graminearum,
F.tricinctum, dan F. moniliforme. Kapang ini tumbuh pada
suhu optimum 20 – 250C dan kelembaban 40 – 60 %. Zearalenon pertama
kali diisolasi pada tahun 1962. Mikotoksin ini cukup stabil dan tahan
terhadap suhu tinggi. Hingga saat ini paling sedikit terdapat 6 macam turunan
zearalenon, diantara nya α-zearalenol yang memiliki aktivitas estrogenik 3 kali lipat daripada
senyawa induknya. Senyawa turunan lainnya adalah 6,8-dihidroksizearalenon,
8-hidroksizearalenon, 3-hidroksizearalenon, 7-dehidrozearalenon, dan 5-
formilzearalenon. Komoditas yang banyak tercemar zearalenon adalah jagung,
gandum, kacang kedelai, beras dan serelia lainnya.

Gambar Struktur kimia zearalenon
Trikotesena
Mikotoksin golongan trikotesena dihasilkan oleh
kapang Fusarium spp., Trichoderma, Myrothecium, Trichothecium
dan Stachybotrys. Mikotoksin golongan ini dicirikan dengan adanya inti
terpen pada senyawa tersebut. Toksin yang dihasilkan oleh kapang-kapang
tersebut diantaranya adalah toksin T-2 yang merupakan jenis trikotesena paling
toksik. Toksin ini menyebabkan iritasi kulit dan juga diketahui bersifat
teratogenik. Selain toksin T-2, trikotesena lainnya seperti deoksinivalenol,
nivalenol dapat menyebabkan emesis dan muntah-muntah (Ueno et al.,
1972 dalam Sinha, 1993).
Fumonisin
Fumonisin
termasuk kelompok toksin fusarium yang dihasilkan oleh kapang Fusarium
spp., terutama F. moniliforme dan F. proliferatum.
Mikotoksin ini relatif baru diketahui dan pertama kali diisolasi dari F.
moniliforme pada tahun 1988 (Gelderblom, et al., 1988).
Selain F. moniliforme dan F. proliferatum, terdapat pula
kapang lain yang juga mampu memproduksi fumonisin, yaitu F.nygamai, F.
anthophilum, F. diamini dan F. napiforme. F.
moniliforme tumbuh pada suhu optimal antara 22,5 – 27,50 C
dengan suhu maksimum 32 – 370C. Kapang Fusarium ini tumbuh dan
tersebar diberbagai negara didunia, terutama negara beriklim tropis dan sub
tropis. Komoditas pertanian yang sering dicemari kapang ini adalah
jagung, gandum, sorgum dan berbagai produk pertanian lainnya.

Gambar Struktur kimia fumonisin
Hingga saat ini telah diketahui 11 jenis senyawa
Fumonisin, yaitu Fumonisin B1 (FB1), FB2, FB3
dan FB4, FA1, FA2, FC1, FC2,
FP1, FP2 dan FP3. Diantara jenis
fumonisin tersebut, FB1 mempunyai toksisitas yang dan dikenal juga
dengan nama Makrofusin. FB1 dan FB2 banyak mencemari
jagung dalam jumlah cukup besar, dan FB1 juga ditemukan pada beras
yang terinfeksi oleh F.proliferatum. Keberadaan kapang penghasil
fumonisin dan kontaminasi fumonisin pada komoditi pertanian, terutama jagung di
Indonesia telah dilaporkan oleh Miller et al. (1993), Trisiwi (1996),
Ali et al., 1998 dan Maryam (2000b). Meskipun kontaminasi
fumonisin pada hewan dan manusia belum mendapat perhatian di Indonesia, namun
keberadaannya perlu diwaspadai mengingat mikotoksin ini banyak ditemukan
bersama-sama dengan aflatoksin sehingga dapat meningkatkan toksisitas kedua
mikotoksin tersebut (Maryam, 2000a).
PENUTUP
Kontaminasi
mikotoksin pada makanan sulit dihindari dan merupakan masalah global,
terutama di Indonesia yang mempunyai iklim yang sangat mendukung pertumbuhan
kapang penghasil mikotoksin. Umumnya kontaminasi mikotoksin terjadi pada
komoditi pertanian dan hasil olahannya, atau pada bahan makanan yang disimpan
terlalu lama. Mikotoksikosis dapat terjadi karena adanya rantai makanan yang
saling berkaitan, dimana pemaparan mikotoksin ke dalam tubuh terjadi karena
konsumsi bahan pangan yang sudah tercemar (efek primer) dan konsumsi produk
hewani (efek sekunder).
Dari
begitu banyaknya jenis mikotoksin yang telah ditemukan, aflatoksin merupakan
mikotoksin yang paling banyak dijumpai di alam terutama di negara beriklim
tropis, dan mempunyai toksisitas yang lebih tinggi dari mikotoksin lainnya.
Namun, toksisitas mikotoksin tergantung beberapa faktor seperti dosis, rute
pemaparan, lamanya pemaparan, spesies, umur, jenis kelamin, status fisiologis (
kesehatan dan gizi), serta adanya efek sinergis dari berbagai mikotoksin dalam
makanan. Umumnya mikotoksin bersifat akumulatif, sehingga efeknya tidak dapat
dirasakan dalam waktu cepat dan sulit dibuktikan secara etiologi. Masalah
lainnya, kontaminasi pada makanan tidak dapat terlihat sehingga tidak mudah
untuk mengindikasi suatu makanan telah tercemar mikotoksin kecuali dengan
melakukan analisa laboratorium.
Namun
demikian, cemaran mikotoksin dapat diindikasikan dengan terlihatnya infestasi
kapang meskipun adanya pertumbuhan kapang tidak selalu identik dengan produksi
mikotoksin karena mikotoksin dihasilkan pada kondisi tertentu. Suatu bahan
makanan dapat saja terdapat beberapa spesies kapang yang menghasilkan beberapa
jenis mikotoksin yang saling beriteraksi dan saling memperkuat tingkat
toksisitas (efek sinergis). Oleh karena alasan tersebut di atas, maka perlunya
meningkatkan kewaspadaan dalam memilih bahan makanan atau makanan olahan yang
akan dikonsumsi dan tidak mengkonsumsi makanan yang sudah kadaluarsa atau yang
disimpan terlalu lama.
Komentar
Posting Komentar