PEMANFAATAN
MIKROALGA SEBAGAI BAHAN BAKU BIOFUEL
Oleh:
R. Haryo Bimo Setiarto
Indonesia
memiliki keanekaragaman hayati yang sangat berlimpah, termasuk di dalamnya adalah
keanekaragaman hayati mikroalga. Mikroalga merupakan tanaman yang paling
efisien dalam menangkap dan memanfaatkan energi matahari dan CO2
untuk keperluan fotosintesis. Selain itu, CO2 dimanfaatkan untuk meningkatkan
produktivitas. Terdapat empat kelompok mikroalga yang sejauh ini dikenal di
dunia, yakni diatom (Bacillariophyceae), ganggang hijau (Chlorophyceae),
ganggang emas (Chrysophyceae), dan ganggang biru (Cyanophyceae).
Keempat kelompok mikroalga tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku
bioenergi. Di Indonesia sendiri ada ratusan jenis mikroalga. Keberadaan
mikroalga sangat membantu dalam pencegahan terjadinya pemanasan global.
Beberapa penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya menyatakan bahwa mikroalga dapat menghasilkan biodiesel
yang bersumber dari kandungan asam lemak biomassanya. Hal ini membuka lahirnya
sumber bahan bakar alternatif baru untuk mengatasi dampak krisis energi. Chlorella
misalnya, memiliki kandungan asam lemak 14-22% (Miyamoto, 1997) dari berat sel
pada kondisi tanam yang biasa. Diketahui dengan memanipulasi media tanam dan
pergantian kondisi fisiologis daur hidupnya dari autotrof menjadi heterotrof
secara drastis serta manipulasi pencahayaan, kedua jenis mikroalga hijau ini
dapat ditingkatkan kandungan lipid/ lemaknya hingga 60% dari berat keringnya
(Wei Xiong, 2008). Dalam penelitian lain diketahui bahwa minyak mentah
mikroalga (crude alga oil) ternyata mengandung isochrysis galbana
(20-35 persen) dan nannochloropsis oculata (31-68 persen). Karena tingginya
kandungan senyawa nannochloropsis oculata tersebut akan meningkatkan jumlah
asam lemak yang mampu dikonversi menjadi senyawa hidrokarbon.
Jenis mikroalga ini sebenarnya
sangat mudah ditemukan pada perairan kaya nitrogen dan fosfat, pada perairan
payau dan asin, serta dapat dikulturkan menggunakan teknologi sederhana. Faktor
keberhasilan dalam pengkulturan masal mikroalga dari laut tergantung kepada
medium yang mensyaratkan nitrogen yang tinggi, pH 6-8, pengaturan cahaya,
pengadukan yang merata dan pemanenan melalui proses separasi (Whitton and
Potts, 2000).
Proses pembuatan mikroalga
menjadi bioenergi tak terlalu sulit. Langkah awal yang dilakukan adalah
identifikasi dan isolasi mikroalga, kemudian mikroalga dikembangbiakkan (dikultivasi)
selama 7 sampai 10 hari. Setelah itu mikroalga ini bisa dipanen, proses
selanjutnya adalah mikroalga disaring, dikeringkan, dan diekstraksi (pemisahan)
menggunakan pelarut heksana atau dietil eter. Metode ekstraksi juga bisa
dipilih menurut kebutuhan dan produk yang ingin diperoleh. Tahap berikutnya dilakukan
pemurnian (dekolorisasi dan deodorisasi) dan esterifikasi untuk mengurai lemak
menjadi hidrokarbon.
Pengembangan global mikroalga
sebagai sumber bahan biofuel dengan julukan Biofuel Generasi Ketiga atau Blue
Energy sedang marak dan mendekati produksi komersial. Kini muncul trend baru
memanfaatkan mikroalga sebagai pengendali polusi cair khususnya logam berat dan
polusi udara khususnya gas rumah kaca CO2. Kedua arah kegiatan
tersebut bisa terkait dengan upaya meningkatkan produksi mikroalga. Limbah
biofuel mikroalga bisa dimanfaatkan antara lain untuk pakan. Sedangkan massa
mikroalga hasil samping pengendalian emisi gas CO2 bisa digunakan
untuk keperluan yang lebih luas termasuk biofuel. Pada tahap sekarang, kegiatan
produksi mikroalga yang dibutuhkan pada kedua upaya yang sedang dikembangkan
tersebut lebih memilih sistem budidaya mikroalga dalam fotobioreaktor.

Fotobioreaktor untuk kultivasi (pembiakkan)
mikroalga pada proses produksi biofuel
Fotobioreaktor adalah bioreaktor
yang digabung dengan sumber cahaya tertentu untuk asupan energi cahaya ke dalam
reaktor. Pada budidaya mikroalga, energi sinar matahari diperlukan untuk proses
fotosintesis. Gas CO2 yang diserap dalam khlorofil diolah menjadi
karbohidrat yang dibutuhkan tanaman dan oksigen yang dilepas ke udara. Pada
dasarnya kolam terbuka untuk pemeliharaan mikroalga sama dengan fotobioreaktor.
Bedanya antara lain fotobioreaktor merupakan sistem tertutup yang lebih mudah
dikontrol dan disesuaikan desainnya dengan lokasi pemasangan, lebih bisa
mencegah kontaminasi, mencegah penguapan air dan CO2, dan tidak
memerlukan areal yang luas (R. Haryo Bimo
Setiarto).
Komentar
Posting Komentar