MENGKONVERSI LIMBAH KOTORAN TERNAK MENJADI BIOGAS
Oleh:
R. Haryo Bimo Setiarto (Bidang Biokimia Mikrobiologi Puslit Biologi LIPI)
Pendahuluan
Biogas adalah
gas yang mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi
bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam
kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses
untuk menghasilkan biogas, namun hanya bahan organik (padat, cair) homogen
seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan
ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Disamping itu juga
sangat mungkin menyatukan saluran pembuangan di kamar mandi atau WC
ke dalam sistem biogas. Di daerah yang banyak industri pemrosesan makanan
antara lain tahu, tempe, ikan pindang atau brem bisa menyatukan saluran
limbahnya ke dalam sistem Biogas, sehingga limbah industri tersebut
tidak mencemari lingkungan di sekitarnya. Hal ini memungkinkan karena limbah
industri tersebut diatas berasal dari bahan organik yang homogen. Jenis bahan
organik yang diproses sangat mempengaruhi produktifitas sistem biogas disamping
parameter-parameter lain seperti temperatur digester, pH, tekanan dan
kelembaban udara. Salah satu cara menentukan bahan organik yang sesuai
untuk menjadi bahan masukan sistem Biogas adalah dengan
mengetahui perbandingan Karbon (C) dan Nitrogen (N) atau disebut rasio
C/N. Beberapa percobaan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa aktifitas
metabolisme dari bakteri methanogenik akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar
8-20%.
Si Nyala Biru dari
Kotoran ternak
Bahan organik dimasukkan ke dalam
ruangan tertutup kedap udara (disebut Digester) sehingga bakteri anaerob
akan membusukkan bahan organik tersebut yang kemudian
menghasilkan gas (disebut Biogas). Biogas yang telah terkumpul
di dalam digester selanjutnya dialirkan melalui pipa penyalur gas
menuju tabung penyimpan gas atau langsung ke lokasi penggunaannya. Komposisi
gas yang terdapat di dalam Biogas dapat dilihat pada tabel berikut:
|
Jenis Gas
|
Volume (%)
|
|
Methana (CH4)
|
40 - 70
|
|
Karbondioksida (CO2)
|
30 - 60
|
|
Hidrogen (H2)
|
0 - 1
|
|
Hidrogen Sulfida (H2S)
|
0 - 3
|
Nilai
kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara dengan
setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat cocok
digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
pengganti minyak tanah, LPG, butana, batubara, maupun bahan-bahan
lain yang berasal dari fosil. Biogas dapat dipergunakan
dengan cara yang sama seperti gas-gas mudah terbakar
yang lain. Pembakaran biogas dilakukan dengan mencampurnya dengan sebagian
oksigen (O2). Namun demikian, untuk mendapatkan hasil
pembakaran yang optimal, perlu dilakukan pra
kondisi sebelum Biogas dibakar yaitu melalui proses pemurnian/penyaringan
karena Biogas mengandung beberapa gas lain yang tidak menguntungkan.
Sebagai salah satu contoh, kandungan gas Hidrogen Sulfida yang
tinggi yang terdapat dalam Biogas jika dicampur dengan
Oksigen dengan perbandingan 1:20, maka akan menghasilkan gas yang sangat
mudah meledak. Tetapi sejauh ini belum pernah dilaporkan terjadinya ledakan
pada sistem Biogas sederhana.
Pupuk dari limbah biogas
Limbah
biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry) merupakan pupuk
organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh
tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein, selulose, lignin, dan
lain-lain tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk organik dari
biogas telah dicobakan pada tanaman jagung, bawang merah dan padi.

Gambar 1 Skema kerja Biogas sebagai bahan
bakar alternatif
Melestarikan alam dengan Biogas
Biogas
memberikan solusi terhadap masalah penyediaan energi dengan murah dan tidak
mencemari lingkungan. Berdasarkan hasil temuan mahasiswa KKN (1995) dan Penelitian
Kecamatan Rawan di Magetan (1995) di desa Plangkrongan, rata-rata
disetiap rumah terdapat 1-3 ekor lembu karena memelihara lembu merupakan
pekerjaan kedua setelah bertani. Setiap harinya rata-rata seekor
lembu menghasilkan kotoran sebanyak 30 kg. Jika terdapat 2.000 ekor lembu, maka
setiap hari akan terkumpul 60 ton kotoran. Kotoran yang menggunung
akan terbawa oleh air masuk ke dalam tanah atau sungai yang kemudian mencemari
air tanah dan air sungai. Kotoran lembu mengandung racun dan bakteri pathogen Escherecia coli yang membahayakan kesehatan
manusia dan lingkungannya.
Pembakaran
bahan bakar fosil menghasilkan karbondioksida (CO2) yang
ikut memberikan kontribusi bagi efek rumah kaca (green house effect)
yang bermuara pada pemanasan global (global warming). Biogas memberikan
perlawanan terhadap efek rumah kaca melalui 3 cara. Pertama,
Biogas memberikan substitusi atau pengganti dari bahan bakar fosil untuk penerangan,
kelistrikan, memasak dan pemanasan. Kedua, Methana (CH4) yang
dihasilkan secara alami oleh kotoran yang menumpuk merupakan gas penyumbang
terbesar pada efek rumah kaca, bahkan lebih besar dibandingkan CO2. Pembakaran
Methana pada Biogas mengubahnya menjadi CO2 sehingga mengurangi
jumlah Methana di udara. Ketiga, dengan lestarinya hutan, maka jumlah CO2
yang ada di udara akan diserap oleh hutan
yang menghasilkan Oksigen yang akan melawan efek rumah kaca.
Keuntungan Ekonomis dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat yang menghasilkan Oksigen yang akan melawan efek rumah kaca.
Keluarga-keluarga
yang menggunakan Biogas sudah tidak membutuhkan
pembelian bahan bakar karena sudah bisa terpenuhi kebutuhannya dari
kotoran ternak yang dipeliharanya. Bagi mereka yang biasanya
mencari/memotong kayu bakar di hutan kini waktunya bisa dipergunakan
untuk kegiatan yang memberikan nilai tambah ekonomis, dengan pekerjaan
sambilan yang lain. Kotoran ternak menjadi sangat
berharga, oleh karena itu mereka akan rajin merawat
ternaknya sehingga kondisi kandang menjadi bersih dan kesehatan ternak
menjadi lebih baik, pada akhirnya membawa keuntungan dengan
penjualan ternak yang lebih cepat dan berharga lebih tinggi. Keluarga petani
yang biasanya menggunakan pupuk kimia untuk menanam, kini bisa menghemat
biaya praproduksi pertaniannya karena sudah tersedia pupuk organik dalam
jumlah yang memadai dan kualitas pupuk yang lebih baik. Aspek Sosio-Kultural
penerapan teknologi biogas. Menerapkan teknologi baru kepada masyarakat desa
merupakan suatu tantangan tersendiri akibat rendahnya latar belakang
pendidikan, pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki. Terlebih lagi pada
penerapan teknologi biogas. Tidak pernah terbayangkan bahwa
kotoran lembu bisa menghasilkan api. Selain itu
juga mereka merasa jijik terhadap makanan yang dimasak menggunakan
Biogas. Di desa Plangkrongan, perlu waktu 2 tahun hanya untuk membangun sebuah
unit Biogas percontohan. Metode yang dipergunakan untuk mensosialisasikan
Biogas adalah dengan memilih sebuah keluarga sebagai Khalayak
Sasaran Antara (KSA) yang diharapkan menjadi pelopor dan bisa
mengembangkan Biogas itu kepada Masyarakat sebagai Khalayak Sasarannya.
Komentar
Posting Komentar