Budidaya
Cacing Tanah Lumbricus rubellus Ternyata
Sangat Berprospek
Oleh:
R. Haryo Bimo Setiarto
Cacing tanah (Lumbricus rubellus) memiliki
banyak khasiat. Dalam dunia moderen, senyawa aktif yang terkandung dalam
tubuh cacing tanah digunakan sebagai
bahan obat. Diantaranya untuk mengobati demam, tifus, rematik, batu ginjal, dan
cacar air. Selain itu, ditemukan pula senyawa aktif dalam cacing tanah yang bermanfaat untuk menyembuhkan, mencegah dan mengobati penyumbatan
pembuluh darah jantung (ischemic) yang berisiko mengundang penyakit jantung
koroner (PJK), tekanan darah tinggi (hipertensi), dan stroke. Di RRC, Korea,
Vietnam, dan banyak tempat lain di Asia Tenggara, cacing tanah terutama dari
jenis Lumbricus rubellus, telah digunakan sebagai obat sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan, tak
sedikit produk kosmetik yang memanfaatkan bahan aktif tersebut sebagai substrat
pelembut kulit, pelembab wajah, dan antiinfeksi. Sebagai produk herbal, telah
banyak merek tonikum yang menggunakan ekstrak cacing tanah sebagai campuran
bahan aktif.

Lumbricus
rubellus memiliki
kandungan nutrisi, diantaranya mengandung kadar protein sangat tinggi yaitu,
sekitar 76 %, protein asam amino berkadar tinggi, 17 % karbohidrat, 45 % lemak
dan abu 1.5 %. Hasil penelitian terhadap cacing tanah menyatakan
bahwa cacing tanah memiliki senyawa aktif yang mampu melumpuhkan bakteri
patogen, khususnya Salmonella
typhosa penyebab tifus dan Eschericia coli berlebih penyebab diare. Praktek pengobatan konvensional dan pengobatan
tradisional China, telah membuktikan efektivitas cacing tanah untuk mengobati
pasien-pasiennya yang mengidap stroke, hipertensi, penyumbatan pembuluh darah
(arterosklerosis), kejang ayan (epilepsi), dan berbagai penyakit infeksi.
Resep-resepnya telah banyak dijadikan obat paten untuk pengobatan alergi,
radang usus, dan stroke. Uji coba klinis serbuk enzim cacing tanah ini
dilakukan terhadap 453 pasien penderita gangguan pembuluh darah (ischemic cerebrovascular disease) dengan
73% kesembuhan total.
Penyembuhan tifus dapat terjadi karena
peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus. Jika sel tubuh terluka oleh
rangsangan pirogen seperti bakteri, virus, atau parasit, membran sel yang
tersusun oleh fosfolipid akan rusak. Salah satu komponen asam lemak fosfolipid, yaitu asam arakidonat,
akan terputus dari ikatan molekul fosfolipid. Asam arakidonat akan membentuk
prostaglandin dengan bantuan enzim siklooksigenase. Prostaglandin inilah yang
merangsang hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Gejala demam dapat
diatasi dengan obat antipiretik. Cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai
antipiretik. Pengujian ekstrak cacing tanah untuk melihat aktivitasnya sebagai
antipiretik dilakukan menggunakan hewan percobaan tikus putih yang didemamkan
dengan penyuntikan vaksin campak. Suhu normal tikus putih mirip dengan manusia,
yaitu berkisar antara 35.9
hingga 37.5 0 C. Tikus putih yang sudah demam diobati
dengan ekstrak cacing tanah dan parasetamol sebagai kontrol. Setelah didemamkan
suhu tubuh tikus putih diukur dengan diamati pergerakan suhunya. Kelompok tikus putih
yang tidak diberi pengobatan meningkat suhunya hingga perbedaannya rata-rata 1.8 0
C dari suhu normalnya. Sementara
itu, yang diberi ekstrak cacing tanah hanya meningkat sedikit suhunya hingga
perbedaannya 0.8 0
C. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu
tikus putih yang didemamkan dapat ditahan oleh ekstrak cacing tanah. Bahkan,
ketika telah dipisahkan senyawa aktifnya secara kasar, kenaikan suhu tikus
putih yang didemamkan dapat ditahan hingga 0.4 0 C saja. Komponen kimia cacing tanah juga tidak menimbulkan efek toksik bagi manusia
sehingga aman dikonsumsi.
Selain diekstrak untuk keperluan pembuatan obat herbal,
cacing tanah juga dapat diolah menjadi pakan unggas dan pakan ikan (pellet).
Mengingat banyaknya peternak unggas dan pembudidaya ikan di Indonesia,
pengolahan cacing menjadi bahan pakan ini memiliki prospek cerah. Di samping kaya protein (50 – 72%), cacing tanah juga
mengandung beberapa asam amino yang sangat penting bagi unggas seperti arginin
(10.7%), tryptophan (4.4%) dan tyrosin (2.25%). Ketiga asam amino ini jarang
ditemui pada bahan pakan lainnya. Oleh karena
itu, cacing tanah memiliki potensi baik untuk mengganti tepung ikan dalam
ransum unggas dan dapat menghemat pemakaian bahan dari biji-bijian sampai 70%.
Meski demikian, penggunaan cacing tanah dalam ransum unggas disarankan tidak
lebih dari 20% total ransum. Pemanfaatan
cacing tanah untuk ransum unggas relatif mudah. Bisa diberikan dalam bentuk
segar atau dijadikan tepung cacing untuk dicampurkan bersama bahan-bahan penyusun
ransum unggas lainnya seperti jagung, dedak, konsentrat, dan sebagainya.
Cacing tanah juga dapat dijadikan sebagai campuran untuk
membuat pellet ikan. Adapun bahan-bahan yang perlu dipersiapkan antara lain
telur ayam yang telah direbus (diambil kuningnya saja), tepung kanji, terigu,
dedak, dan tepung cacing. Semua bahan ditimbang, sesuai dengan analisis bahan.
Sedangkan peralatan yang digunakan adalah alat penggiling tepung, alat
penggiling daging dan baskom. Sebelumnya, kita
mesti mengolah dulu cacing segar menjadi tepung. Caranya, cacing segar
dipisahkan dari medianya, kemudian dicuci dan dibilas dengan air bersih serta
ditimbang. Cacing ditebar diatas seng,
kemudian dijemur di bawah terik matahari selama sehari. Jika sudah kering,
cacing dapat dibuat menjadi tepung dengan menggunakan penggiling tepung. Tepung
cacing ditimbang dan siap digunakan. Jika
ingin membuat pellet dengan kadar protein 35%, maka formula ransumnya terdiri
atas tepung cacing (47%), telur ayam (20%), dedak (18%), terigu (14%), dan
kanji (1%). Campurkan semua bahan, kemudian diaduk hingga merata. Tambahkan air
hangat secukupnya hingga adonan menjadi liat. Tapi ingat, jangan terlalu banyak
memberi air, karena dapat mengurangi daya simpannya. Adonan yang sudah liat bisa dicetak dengan mesin penggiling
daging, sehingga menghasilkan pellet basah yang panjangnya seperti mie. Pellet
yang masih basah dipotong (misalnya sepanjang 0,5 cm) sehingga membentuk
butiran-butiran. Karena masih mengandung air,
pellet dijemur dulu dibawah terik matahari, sampai kering sehingga dapat
disimpan dalam waktu lama. Sekarang pellet sudah jadi dan siap digunakan. Jika
akan dipasarkan, pellet dapat dikemas terlebih dahulu ke dalam kantong plastik
dengan bobot tertentu.
Di
samping itu limbah hasil budidaya cacing tanah berupa kascing juga memiliki
manfaat yang tidak kalah besarnya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
terhadap pupuk organik yang diperoleh dari kotoran cacing tanah (disebut dengan
kascing) diperoleh kandungan unsur hara seperti C, N, P, K, S, Ca, Mg, Fe, Mn,
Al, Cu, Zn yang sangat bermanfaat bagi kesuburan tanah. Kascing merupakan
partikel-partikel tanah yang berwarna kehitam-hitaman dengan ukuran lebih kecil
daripada partikel tanah biasa sehingga lebih cocok untuk pertumbuhan tanaman.
Kascing mengandung zat organik yang akan menyesuaikan perubahan kimia secara
alami. Selain itu, kascing juga mengandung berbagai unsur hara penting seperti
auksin, sitokinin, giberelin, dan zat perangsang tumbuh untuk tanaman. Dan jika
dilihat dari kandungan unsurnya, kascing jauh lebih baik daripada pupuk
anorganik karena hampir seluruh unsur hara yang dibutuhkan tanaman tersedia
didalamnya. Komposisi komponen kimiawi pada kascing: Nitrogen (N) 1.1-4.0%,
Fosfor (P) 0.3-3.5%, Kalium (K) 0.2-2.1%, Belerang (S) 0.24-0.63%, Magnesium
(Mg) 0,3-0,6%, Besi (Fe) 0,4-1,6%.

Cacing
tanah juga dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan sampah melalui proses
pengomposan sehingga dapat memberikan manfaat ganda. Cacing tanah yang
menggunakan sampah sebagai sumber nutrisinya dapat berkembangbiak dan dipasarkan
dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Pengomposan adalah suatu metode
perombakan sampah bahan organik (sampah dapur dan kebun) dalam suatu wadah atau
tumpukan besar, akibat adanya kegiatan alami bakteri dan jamur. Sementara itu invertebrata
kecil seperti cacing tanah dan lipan kaki seribu akan membantu menyempurnakan
proses ini. Pengomposan akan mengubah sampah dapur dan kebun menjadi suatu
bahan semacam tanah yang berwarna gelap dalam beberapa minggu atau bulan. Sifat
kimia dan kandungan unsur hara kascing yang dihasilkan setara dengan kompos. Dengan
cara-cara tersebut maka dapat pula diperoleh nilai ekonomi ganda dan
pengelolaan sampah dengan menggunakan cacing tersebut, yang pertama dari hasil
pupuk organik dari kotoran cacing dan yang kedua adalah hasil budidaya cacing
yang dimanfaatkan untuk obat dan kosmetik.
Komentar
Posting Komentar